Dalam fisika, benda tegar merupakan istilah untuk benda yang memiliki karakteristik tidak akan berubah bentuknya setelah diberikan / adanya gaya luar pada benda tersebut. Benda tegar ini bisa bergerak secara translasi dan rotasi. Oleh karena itu, dalam keseimbangan benda tegar ini berhubungan dengan keseimbangan translasi dan keseimbangan rotasi.
Ada beberapa jenis dalam keseimbangan benda tegar ini, yaitu: 1. Keseimbangan stabil, 2. Keseimbangan labil, dan 3. Keseimbangan indifferent atau netral.
Untuk memahami konsep keseimbangan translasi, konsep keseimbangan rotasi dan keseimbangan benda tegar serta jenis-jenisnya ini, silahkan lihat pada file swf yang dilengkapi animasi dan simulasi berikut…
Tampilkan postingan dengan label kelas XI semester 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kelas XI semester 2. Tampilkan semua postingan
Diposting oleh
Jalu Rosyid Abadan
komentar (0)
source : my-diaryzone.blogspot.com
Diposting oleh
Jalu Rosyid Abadan
komentar (0)
Termodinamika adalah satu cabang fisika teoritik yang berkaitan dengan hukum-hukum pergerakan panas,dan perubahan dari panas menjadi bentuk-bentuk energi yang lain.Istilah ini diturunkan dari bahasa yunani Therme (panas) dan dynamis (gaya).Cabang ilmu ini berdasarkan pada dua prinsip dasar yang aslinya diturunkan dari eksperimen,tapi kini dianggap sebagai aksiom.prinsip pertama adalah hukum kekekalan energi,yang mengambil bentuk hukum kesetaraan panas dan kerja.Prinsip yang kedua menyatakan bahwa panas itu sendiri tidak dapat mengalir dari benda yang lebih dingin ke benda yang lebih panas tanpa adanya perubahan dikedua benda tersebut.
Sistem termodinamika
Sistem termodinamika adalah bagian dari jagad raya yang diperhitungkan.semua batasan yang nyata atau imajinasi memisahkansistem dengan jagad raya,yang disebut lingkungan.
Ada tiga jenis sistem termodinamika berdasarkan jenis pertukaran yang terjadi antara sistem dan lingkungan:
Sistem Terisolasi
Sistem ini tidak terjadi pertukaran panas,benda atau kerja dengan lingkungan.Contoh dari sistem terisolasi adalah wadah terisolasi,seperti tabung gas terisolasi.
Sistem Tertutup
Pada sistem ini terjai pertukaran energi tapi tidak terjadi pertukaran benda dengan lingkungan.Rumah hijau adalah contoh dari sistem tertutup dimana terjadi pertukaran panas tetapi tidak terjadi pertukaran kerja dengan lingkungan.Apakah suatu sistem terjadi pertukaran panas,kerja atau keduanya biasanya dipertimbangkan sebagai sifat pembatasnya.Pembatas adibiatik yaitu tidak diperbolehkan pertukaran panas sedangkan pembatas rigid yaitu tidak memperbolehkan pertukaran kerja.
Sistem Terbuka
Pada sistem ini terjadi pertukaran energi dan benda dan lingkungannya.sebuah pembatas memperbolehkan pertukaran benda disebutpermeabel.Samudra merupakan contoh dari sistem terbuka.
Keadaan Termodinamika
Ketika sistem dalam keadaan seimbang dalam kondisi yang ditentukan,ini
disebut dalam keadaan pasti (atau keadaan sistem).
Untuk keadaan termodnamika tertentu,banyak sifat dari sistem di spesifikasikan.Properti ini tidak bergantung dengan jalur dimana sistem ini membentuk keadaan tersebut,disebut fungsi keadaan dari sistem.Bagian selanjutnya dalam seksi ini hanya mempertimbangkan properti,yang merupakan fungsi keadaan.
Hukum – hukum Dasar Termodinamika
Hukum –hukum termodinamika pada prinsipnya menjelaskan peristiwa perpindahan panas dan kerja pada proses termodinamika.Terdapat 4 hukum dasar yang berlaku di dalam sistem termodinamika,yaitu:
Hukum Awal
Termodinamika hukum ini menyatakan bahwa apabila dua buah benda yang berada didalam kesetimbangan thermal digabungkan dengan sebuah benda lain,maka ketiga-tiganya berada dalam kesetimbangan thermal.
Hukum Pertama
Hukum termodinamika pertama berbunyi “Energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan tetapi dapat dikonversi dari suatu bentu ke bentuk yang lain”.Hukum pertama adalah prinsip kekekalan energi yang memasukan kalor sebagai model perpindahan energi.Menurut hukum pertama,energi didalam suatu benda dapat ditingkatkan dengan cara menambahkan kalor ke benda atau dengan melakukan usaha pada benda.Hukum pertama tidak membatasi arah perpindahan kalor yang dapat terjadi.
Aplikasi : Mesin-mesin pembangkit energi dan pengguna energi.Semuanya hanya mentransfer dengan berbagai cara.
Hukum kedua
Termodinamika hukum kedua terkait dengan entropi.Entropi adalah tingkat keacakan energi.Hukum ini menyatakan bahwa total entropi dari suatu sistem termodinamika terisolasi cenderung untuk meningkatkan waktu,mendekati nilai maksimumnya.
Aplikasi : kulkas harus mempunyai pembuang panas dibelakangnya,yang suhunya lebih tinggi dari udara sekitar.Karena jika tidak panas dari isi kulkas tidak bisa terbuang keluar.
Hukum ketiga
Hukum termodinamika ketiga terkait dengan temperatur nol absolut.Hukum ini menyatakan bahwa pada saat suatu sistem mencapai temperatur nol absolut,semua proses akan berhenti da entropi sistem akan mendekati nilai minimum.Hukum ini juga menyatakan bahwa entropi benda berstruktur kristal sempurna pada temperatur nol absolut bernilai nol.
Aplikasi : kebanyakan logam bisa menjadi superkonduktor pada suhuyang sangat rendah,karena tidak banyak acakan gerakan kinetik dalam skala mokuler yang mengganggu aliran elektron.
Penerapan Hukum Termodinamika Pertama pada Beberapa proses
Termodinamika
Hukum pertama termodinamika dilakukan dalam empat proses,Yaitu:
•Proses Isotermal
Dalam proses ini,suhu sistem dijaga agar selalu konstan.Suhu gas ideal
berbanding lurus dengan energi dalam gas ideal.
dan tekanan sistem berubah penjadi (tekanan sistem berkurang).
•Proses Adiabatik
Dalam proses adibiatik,tidak ada kalor yang ditambahkan pada sistem atau meninggalkan sistem (Q = O).Proses adibiatik bisa terjadi pada sistem tertutup yang terisolasi dengan baik.Untuk sistem tertutup yang terisolasi dengan baik,biasanya tidak ada kalor yang dengan seenaknya mengalir kedalam sistem atau meninggalkan sistem.Proses adibiatik juga bisa terjadi pada sistem tertutup yang tidak terisolasi.Proses dilakukan dengan
sangat cepat sehingga kalor tidak sempat mengalir menuju sistem atau
meninggalkan sistem.
•Proses Isokorik
Dalam prose isokorik,volume sistem dijaga agar selalu konstan.Karenavolume sistem selalu konstan.Maka sistem tidak bisa melakukan kerjapada lingkungan.Demikian juga sebaliknya,lingkungan tidak bisa melakukan kerja pada sistem.
•Proses Isobarik
Dalam proses isobarik,tekanan sistem dijaga agar selalu konstan.Karena yang konstan adalah tekanan,maka perubahan energi dalam (del U),kalor (Q),dan kerja (W) pada proses isobarik tidak ada yang bernilai nol.Dengan demikian,Persamaan hukum pertama termodinamika tetep utuh seperti semula.
Penerapan Hukum Pertama Termodinamika pada Manusia
Kita bisa menerapkan hukum pertama termodinamika pada manusia agar dapat bertahan hidup.Setiap mahluk hidup,baik manusia,hewan atau tumbuhan tentu saja membutuhkan energi.Kita tidak bisa belajar,jalan-jalan,jika kita tidak berdaya karena kekurangan energi.
Entropi dan Hukum-hukum termodinamika kedua.
Hukum termodinamika kedua menyatakan bahwa kondisi-kondisi alam selalu mengarah kepada ketidak aturan atau hilangnya informasi.Hukum ini juga dikenalsebagai “Hukum Entropi”.Entropi adalah selang ketidakteraturan dalam suatu sistem.Entropi sistem meningkat ketika suatu keadaan yang teratur,tersususn dan terencana menjadi lebih tidak teratur,tersebar dan tidak terencana.Semakin tidak teratur,semakin tinggi pula entropinya.Hukum entropi menyatakan bahwa seluruh alam semesta bergerak menuju keadaan yang semakin tidak teratur,tidak terencana,dan tidak terorganisir.
Hukum ini disempurnakan pada tahun 1877 oleh Ludwig Boitzmann.Dalam versinya,entropi nampak sebagai fungsi peluang darisatu keadaan,semakin tinggi peluang suatu keadaan,semakin tinggi pula entropinya.Dalam versi ini,semua sistem cenderung menuju satu keadaan setimbang.Dengan demikia,ketika suatu benda panas ditempatkan berdampingan dengan sebuah benda dingin,energi akan mengalir dari yang panas ke yang dingin,sampai mereka mencapai keadaan setimbang,yaitu memiliki suhu yang sama.
Keteraturan dan Ketidakteraturan (konsep Entropi)
Konsep ini diperkenalkan oleh Rudolf Clausius pada abad ke 19,seorang fisikawan dan matematikawan jerman,untuk mengukurpelepasan energi menjadi anas danfriksi.Clausius mendefinisikan entropi yang muncul dalam proses termal sebagai energi yang dihamburkan dan dipisahkan oleh temperatur pada saat proses berlansung.
Seorang fisikawan Australia Ludwig Boltzmann pada awal abad ke-20 memberi arti baru pada konsep entropi dan menetapkan hubungan antara entropi dan keteraturan molekular.Konsep keteraturan yang diperkenalkan oleh Boltzmann adalah konsep termodinamika ,dimana molekul-molekul berada dalam gerak yang konstan. Definisi keteraturan di dalam termodinamika berbeda sekali dengan pengertian-pengertian kaku mengenai keteraturan dan kesetimbangan dalam mekanika Newtonian.
source : prawiraputrabrahmanda
source : prawiraputrabrahmanda
Diposting oleh
Jalu Rosyid Abadan
komentar (0)
Teori Kinetik Gas: Distribusi Kecepatan Partikel Gas Ideal | Materi Fisika Kelas XI Semester 2
Dalam gas ideal yang sesungguhnya atom-atom tidak sama kecepatannya. Sebagian bergerak lebih cepat, sebagian lebih lambat. Tetapi sebagai pendekatan kita anggap semua atom itu kecepatannya sama. Demikian pula arah kecepatannya atom-atom dalam gas tidak sama. Untuk mudahnya kita anggap saja bahwa : sepertiga jumlah atom bergerak sejajar sumbu x, sepertiga jumlah atom bergerak sejajar sumbu y dan sepertiga lagi bergerak sejajar sumbu z.
Kecepatan bergerak tiap-tiap atom dapat ditulis dengan bentuk persamaan :
vras = kecepatan tiap-tiap atom, dalam m/det
k = konstanta Boltzman k = 1,38 x 10-23 joule/atom oK
T = suhu dalam oK
m = massa atom, dalam satuan kilogram.
Hubungan antara jumlah rata-rata partikel yang bergerak dalam suatu ruang ke arah kiri dan kanan dengan kecepatan partikel gas ideal, digambarkan oleh MAXWELL dalam bentuk : DISTRIBUSI MAXWELL.
Oleh karena serta maka tiap-tiap molekul gas dapat dituliskan kecepatannya dengan rumus :
M = massa gas per mol dalam satuan kg/mol
R = konstanta gas umum = 8,317 joule/moloK
Dari persamaan di atas dapat dinyatakan bahwa :
Pada suhu yang sama, untuk 2 macam gas kecepatannya dapat dinyatakan :
vras1 = kecepatan molekul gas 1
vras2 = kecepatan molekul gas 2
M1 = massa molekul gas 1
M2 = massa molekul gas 2
Pada gas yang sama, namun suhu berbeda dapat disimpulkan :
source : jatisrono.com
Diposting oleh
Jalu Rosyid Abadan
komentar (0)
FLUIDA BERGERAK
ALIRAN FLUIDA
Di dalam geraknya pada dasarnya dibedakan dalam 2 macam, yaitu :
Aliran laminar / stasioner / streamline.
Aliran turbulen
Suatu aliran dikatakan laminar / stasioner / streamline bila :
Setiap partikel yang melalui titik tertentu selalu mempunyai lintasan (garis arus) yang tertentu pula.
Partikel-partikel yang pada suatu saat tiba di K akan mengikuti lintasan yang terlukis pada gambar di bawah ini. Demikian partikel-partikel yang suatu saat tiba di L dan M.
Kecepatan setiap partikel yang melalui titik tertentu selalu sama. Misalkan setiap partikel yang melalui K selalu mempunyai kecepatan vK.
Aliran yang tidak memenuhi sifat-sifat di atas disebut : ALIRAN TURBULEN.
K L
M N
Pembahasan dalam bab ini di batasi pada fluida ideal, yaitu fluida yang imkompresibel dan bergerak tanpa mengalami gesekan dan pada aliran stasioner.
DEBIT.
Fluida mengalir dengan kecepatan tertentu, misalnya v meter per detik. Penampang tabung alir seperti terlihat pada gambar di atas berpenampang A, maka yang dimaksud dengan DEBIT FLUIDA adalah volume fluida yang mengalir persatuan waktu melalui suatu pipa dengan luas penampang A dan dengan kecepatan v.
Q = atau Q = A . v
Q = debit fluida dalam satuan SI m3/det
Vol = volume fluida m3
A = luas penampang tabung alir m2
V = kecepatan alir fluida m/det
PERSAMAN KONTINUITAS.
Fluida mengalir dengan kecepatan tertentu, misalnya v meter per detik. Penampang tabung alir seperti terlihat pada gambar di atas berpenampang A, maka yang dimaksud dengan DEBIT FLUIDA adalah volume fluida yang mengalir persatuan waktu melalui suatu pipa dengan luas penampang A dan dengan kecepatan v.
Q = A . v
Q = debit fluida dalam satuan SI (m3/det)
A = luas penampang tabung alir (m2)
V = kecepatan alir fluida (m/det)
Persamaan Kontinuitas
ρ.A1.v1. delta t = ρ.A2.v2. delta t
Jadi :
A1.v1 = A2.v2
A.v yang merupakan debit fluida sepanjang tabung alir selalu konstan (tetap sama nilainya), walaupun A dan v masing-masing berbeda dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Maka disimpulkan :
Q = A1.v1 = A2.v2 = konstan
HUKUM BERNOULLI.
Hukum Bernoulli merupakan persamaan pokok hidrodinamika untuk fluida mengalir dengan arus streamline. Di sini berlaku hubungan antara tekanan, kecepatan alir dan tinggi tempat dalam satu garis lurus. Hubungan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
Perhatikan gambar tabung alir a-c pada gambar. Jika tekanan P1 tekaopan pada penampang A1, dari fluida di sebelah kirinya, maka gaya yang dilakukan terhadap penampang di a adalah P1.A1, sedangkan penampang di c mendapat gaya dari fluida dikanannya sebesar P2.A2, di mana P2 adalah tekanan terhadap penampang di c ke kiri. Dalam waktu t detik dapat dianggap bahwa penampang a tergeser sejauh v1. t dan penampang c tergeser sejauh v2. t ke kanan. Jadi usaha yang dilakukan terhadap a adalah : P1.A1.v1. t sedangkan usaha yang dilakukan pada c sebesar : - P2.A2.v2. t
Jadi usaha total yang dilakukan gaya-gaya tersebut besarnya :
Wtot = (P1.A1.v1 - P2.A2.v2) t
Dalam waktu t detik fluida dalam tabung alir a-b bergeser ke c-d dan mendapat tambahan energi sebesar :
Emek = Ek + Ep
Emek = ( ½ m . v22 – ½ m. v12) + (mgh2 – mgh1)
= ½ m (v22 – v12) + mg (h2 – h1)
Keterangan : m = massa fluida dalam a-b = massa fluida dalam c-d.
h2-h1 = beda tinggi fluida c-d dan a-b
Karena m menunjukkan massa fl;uida di a-b dan c-d yang sama besarnya, maka m dapat dinyatakan :
m = .A1.v1. t = .A2.v2. t
Menurut Hukum kekekalan Energi haruslah :
Wtot = Emek
Dari persamaan-persaman di atas dapat dirumuskan persaman :
P1 + ½ m.v12 + mgh1 = P2 + ½ m.v22 + mgh2
Suku-suku persamaan ini memperlihatkan dimensi USAHA.
Dengan membagi kedua ruas dengan maka di dapat persamaan :
P1 + ½ .v12 + g h1 = P2 + ½ .v22 + g h2
Suku-suku persamaan di atazs memperlihatkan dimensi TEKANAN.
Keterangan :
P1 dan P2 = tekanan yang dialami oleh fluida
v1 dan v2 = kecepatan alir fluida
h1 dan h2 = tinggi tempat dalam satu garis lurus
= Massa jenis fluida
g = percepatan grafitasI
GAYA ANGKAT SAYAP PESAWAT TERBANG.
Kita akan membahas gaya angkat pada sayap pesawat terbang dengan menggunakan persamaan BERNOULLI. Untuk itu, kita anggap bentuk sayap pesawat terbang sedemikian rupa sehingga garis arus al;iran udara yang melalui sayap adalah tetap (streamline)
Penampang sayap pesawat terbang mempunyai bagian belakang yang lebih tajam dan sisi bagian yang atas lebih melengkung daripada sisi bagian bawahnya. Bentuk ini menyebabkan aliran udara di bagian atas lebih besar daripada di bagian bawah (v2 > v1).
Dari persamaan Bernoulli kita dapatkan :
P1 + ½ .v12 + g h1 = P2 + ½ .v22 + g h2
Ketinggian kedua sayap dapat dianggap sama (h1 = h2), sehingga g h1 = g h2.
Dan persamaan di atas dapat ditulis :
P1 + ½ .v12 = P2 + ½ .v22
P1 – P2 = ½ .v22 - ½ .v12
P1 – P2 = ½ (v22 – v12)
Dari persamaan di atas dapat dilihat bahwa v2 > v1 kita dapatkan P1 > P2 untuk luas penampang sayap F1 = P1 . A dan F2 = P2 . A dan kita dapatkan bahwa F1 > F2. Beda gaya pada bagian bawah dan bagian atas (F1 – F2) menghasilkan gaya angkat pada pesawat terbang. Jadi, gaya angkat pesawat terbang dirumuskan sebagai :
F1 – F2 = ½ A(v22 – v12)
Dengan = massa jenis udara (kg/m3)
source : basisphysics,blogspot.com , webdiverg3.blogspot.com
Diposting oleh
Jalu Rosyid Abadan
komentar (0)
| Figure 6-4: Torque on a Rotating Shaft |
Torque Measurement
Torque is measured by either sensing the actual shaft deflection caused by a twisting force, or by detecting the effects of this deflection. The surface of a shaft under torque will experience compression and tension, as shown in Figure 6-4. To measure torque, strain gage elements usually are mounted in pairs on the shaft, one gauge measuring the increase in length (in the direction in which the surface is under tension), the other measuring the decrease in length in the other direction.
Early torque sensors consisted of mechanical structures fitted with strain gages. Their high cost and low reliability kept them from gaining general industrial acceptance. Modern technology, however, has lowered the cost of making torque measurements, while quality controls on production have increased the need for accurate torque measurement.
Torque is measured by either sensing the actual shaft deflection caused by a twisting force, or by detecting the effects of this deflection. The surface of a shaft under torque will experience compression and tension, as shown in Figure 6-4. To measure torque, strain gage elements usually are mounted in pairs on the shaft, one gauge measuring the increase in length (in the direction in which the surface is under tension), the other measuring the decrease in length in the other direction.
Early torque sensors consisted of mechanical structures fitted with strain gages. Their high cost and low reliability kept them from gaining general industrial acceptance. Modern technology, however, has lowered the cost of making torque measurements, while quality controls on production have increased the need for accurate torque measurement.
Torque Applications
Applications for torque sensors include determining the amount of power an engine, motor, turbine, or other rotating device generates or consumes. In the industrial world, ISO 9000 and other quality control specifications are now requiring companies to measure torque during manufacturing, especially when fasteners are applied. Sensors make the required torque measurements automatically on screw and assembly machines, and can be added to hand tools. In both cases, the collected data can be accumulated on dataloggers for quality control and reporting purposes.
Other industrial applications of torque sensors include measuring metal removal rates in machine tools; the calibration of torque tools and sensors; measuring peel forces, friction, and bottle cap torque; testing springs; and making biodynamic measurements.
Applications for torque sensors include determining the amount of power an engine, motor, turbine, or other rotating device generates or consumes. In the industrial world, ISO 9000 and other quality control specifications are now requiring companies to measure torque during manufacturing, especially when fasteners are applied. Sensors make the required torque measurements automatically on screw and assembly machines, and can be added to hand tools. In both cases, the collected data can be accumulated on dataloggers for quality control and reporting purposes.
Other industrial applications of torque sensors include measuring metal removal rates in machine tools; the calibration of torque tools and sensors; measuring peel forces, friction, and bottle cap torque; testing springs; and making biodynamic measurements.
Sensor Configurations
Torque can be measured by rotating strain gages as well as by stationary proximity, magnetostrictive, and magnetoelastic sensors. All are temperature sensitive. Rotary sensors must be mounted on the shaft, which may not always be possible because of space limitations.
Torque can be measured by rotating strain gages as well as by stationary proximity, magnetostrictive, and magnetoelastic sensors. All are temperature sensitive. Rotary sensors must be mounted on the shaft, which may not always be possible because of space limitations.
| Figure 6-5: Inductive Coupling of Torque Sensors |
A strain gage can be installed directly on a shaft. Because the shaft is rotating, the torque sensor can be connected to its power source and signal conditioning electronics via a slip ring. The strain gage also can be connected via a transformer, eliminating the need for high maintenance slip rings. The excitation voltage for the strain gage is inductively coupled, and the strain gage output is converted to a modulated pulse frequency (Figure 6-5). Maximum speed of such an arrangement is 15,000 rpm.
Strain gages also can be mounted on stationary support members or on the housing itself. These "reaction" sensors measure the torque that is transferred by the shaft to the restraining elements. The resultant reading is not completely accurate, as it disregards the inertia of the motor.
Strain gages used for torque measurements include foil, diffused semiconductor, and thin film types. These can be attached directly to the shaft by soldering or adhesives. If the centrifugal forces are not large--and an out-of-balance load can be tolerated--the associated electronics, including battery, amplifier, and radio frequency transmitter all can be strapped to the shaft.
Proximity and displacement sensors also can detect torque by measuring the angular displacement between a shaft's two ends. By fixing two identical toothed wheels to the shaft at some distance apart, the angular displacement caused by the torque can be measured. Proximity sensors or photocells located at each toothed wheel produce output voltages whose phase difference increases as the torque twists the shaft.
Another approach is to aim a single photocell through both sets of toothed wheels. As torque rises and causes one wheel to overlap the other, the amount of light reaching the photocell is reduced. Displacements caused by torque can also be detected by other optical, inductive, capacitive, and potentiometric sensors. For example, a capacitance-type torque sensor can measure the change in capacitance that occurs when torque causes the gap between two capacitance plates to vary.
The ability of a shaft material to concentrate magnetic flux--magnetic permeability--also varies with torque and can be measured using a magnetostrictive sensor. When the shaft has no loading, its permeability is uniform. Under torsion, permeability and the number of flux lines increase in proportion to torque. This type of sensor can be mounted to the side of the shaft using two primary and two secondary windings. Alternatively, it can be arranged with many primary and secondary windings on a ring around the shaft.
A magnetoelastic torque sensor detects changes in permeability by measuring changes in its own magnetic field. One magnetoelastic sensor is constructed as a thin ring of steel tightly coupled to a stainless steel shaft. This assembly acts as a permanent magnet whose magnetic field is proportional to the torque applied to the shaft. The shaft is connected between a drive motor and the driven device, such as a screw machine. A magnetometer converts the generated magnetic field into an electrical output signal that is proportional to the torque being applied.
Strain gages also can be mounted on stationary support members or on the housing itself. These "reaction" sensors measure the torque that is transferred by the shaft to the restraining elements. The resultant reading is not completely accurate, as it disregards the inertia of the motor.
Strain gages used for torque measurements include foil, diffused semiconductor, and thin film types. These can be attached directly to the shaft by soldering or adhesives. If the centrifugal forces are not large--and an out-of-balance load can be tolerated--the associated electronics, including battery, amplifier, and radio frequency transmitter all can be strapped to the shaft.
Proximity and displacement sensors also can detect torque by measuring the angular displacement between a shaft's two ends. By fixing two identical toothed wheels to the shaft at some distance apart, the angular displacement caused by the torque can be measured. Proximity sensors or photocells located at each toothed wheel produce output voltages whose phase difference increases as the torque twists the shaft.
Another approach is to aim a single photocell through both sets of toothed wheels. As torque rises and causes one wheel to overlap the other, the amount of light reaching the photocell is reduced. Displacements caused by torque can also be detected by other optical, inductive, capacitive, and potentiometric sensors. For example, a capacitance-type torque sensor can measure the change in capacitance that occurs when torque causes the gap between two capacitance plates to vary.
The ability of a shaft material to concentrate magnetic flux--magnetic permeability--also varies with torque and can be measured using a magnetostrictive sensor. When the shaft has no loading, its permeability is uniform. Under torsion, permeability and the number of flux lines increase in proportion to torque. This type of sensor can be mounted to the side of the shaft using two primary and two secondary windings. Alternatively, it can be arranged with many primary and secondary windings on a ring around the shaft.
A magnetoelastic torque sensor detects changes in permeability by measuring changes in its own magnetic field. One magnetoelastic sensor is constructed as a thin ring of steel tightly coupled to a stainless steel shaft. This assembly acts as a permanent magnet whose magnetic field is proportional to the torque applied to the shaft. The shaft is connected between a drive motor and the driven device, such as a screw machine. A magnetometer converts the generated magnetic field into an electrical output signal that is proportional to the torque being applied.
source : www.omega.com
Diposting oleh
Jalu Rosyid Abadan
komentar (0)
Fluida Ideal
Sebelum kita membahas fluida statis, kita batasi terlebih dahulu fluida yang seperti apa yang akan kita pelajari. Fluida yang akan kita pelajari kali ini adalah fluida idela. Sifat - sifat dari fluida ideal adalah:
1. Incompressible (tidak mengalami perubahan ketika mendapat tekanan)2. Non viscosity (ketika bergerak tidak mengalami gesekan)3. Alirannya stasioner (konstan)
Definis Fluida Statis
Apakah anda pernah menaruh air dalam gelas. Kemudian air itu didiamkan sampai tidak ada bagian - bagian air yang berpindah (tentunya bagian - bagian yang dimaksud yang bersifat makro). Keadaan seperti itulah yang dinamakan fluida statis, yaitu fluida yang tidak mengalami perpindahan bagian - bagiannya. Pada fluida statis kita akan mempelajari mengenai tekanan dan tegangan permukaan.
Tekanan Hidrostatis
Apabila kita menyelam di danau ataupun di lautan, maka semakin dalam kita menyelam kita akan merasakan adanya tekanan yang semakin besar. Demikian pula tekanan atmosfer akan semakin berkurang dengan bertambahnya ketinggian. Inilah sebabnya kabin pesawat terbang harus diberi tekanan. Namun, untuk atmosfer kita agak susah menentukan tekanannya pada suatu ketinggian tertentu karena kerapatan atmosfer tidak konstan. Untuk cairan seperti air yang kerapatannya konstan, maka tekanan akan bertambah secara linear sesuai dengan bertambahnya kedalaman. (kedalaman dihitung dari permukaan fluida tersebut).
Coba kita perhatikan fluida yang ada dalam gelas! Kita anggap saja fluida tersebut merupakan fluida ideal.
Pada lapisan bagian atas, fluida mendapatkan tekanan atmosfer (Po). Namun, karena fluida memiliki masa maka akan menimbulkan gaya berat yang akan menekan pada dasar gelas tersebut. Sehingga tekanan yang dialami oleh dasar gelas adalah:
Karena tekanan merupakan gaya per satuan luas daerah yang dikenai gaya (
), maka tekanan pada dasar gelas adalah:
Telah kita ketahui bahwa massa jenis benda itu merupakan massa per satuan volume, sehingga
Kita asumsikan, gelas tersebut merupakan silinder. Sehingga volumenya adalah luas alas dikalikan dengan tingginya (V = A h)
Dengan demikian, tekanan hidrostatis pada dasar gelas adalah:
Ternyata, tekanan hidrostatis bergantung pada kedalaman dan tidak bergantung pada bentuk dan luas permukaan bejana. Sehingga tekanan hidrostatis pada satu jenis fluida pada permukaan bumi akan sama untuk semua titik yang memiliki kedalaman yang sama.
source : fisikasma-online

